Sabtu, 31 Oktober 2015

Tanggal Tua dan Tanggal Muda

Siapapun pasti udah sering banget nih menikmati tanggal tua dan tanggal muda juga tanggal tengah-tengah. Apalagi bagi ibu bendahara. Pusingnya mengatur keuangan bisa sampai pasang koyo *ini berlebihan*
Berbagai keperluan, yang kalau sama saya disebut "pos", pasti butuh kejelian dan ketelitian dalam mengaturnya. Pernah dipuncak kebingungan ketika kami tidak ada uang yang bisa dipakai untuk berbelanja. Kejadian seperti itu saya yakini tidak hanya saya saja sih yang mengalaminya. Yang jadi pertanyaan adalah, bagaimana bisa mendapatkan uang kembali disaat seperti itu?
Kalau saya dan suami, kemarin sempat membobol tabungan dana darurat gara-gara kami tidak punya uang yang "selo" alias nganggur. Galaunya bertubi-tubi. Memikirkan bagaimana nanti kalau kami butuh uang darurat tersebut dalam keadaan yang lebih penting lagi, duuhh ampun deh.
Dengan amat sangat terpaksa akhirnya sekarang saya memperbanyak Pos. Dengan tujuan semoga bisa lebih cermat dalam gali lubang tutup lubangnya.
Berikut pos-pos dalam management saya :
Pos Bulanan
Pos Harian
Pos Tambahan
Pos Darurat
Pos Sesepuh
Sebenarnya Pos Darurat, Pos Sesepuh dan Pos Papan saya jabarkan dari Pos  Bulanan. Cuma yaa itu tadi, karena kejadian pembobolan jadi saya lebarkan lagi. 

Pos bulanan meliputi sedekah/zakat, ini paling utama bagi kami, tidak disisihkan tapi jadi sebuah kewajiban. Selain itu ada belanja bulanan atau kebutuhan dalam sebulan yang bisa di stok. Seperti sabun, shampoo, pasta gigi, beras, sabun cuci piring, detergen, pewangi, daily skincare, dan semacamnya. Juga untuk uang listrik, air, pulsa (kami menggunakan layanan pascabayar dan prabayar), televisi, dan majalah.

Pos harian adalah belanjaan seharian seperti sayur-sayuran, jamu sore (suami saya setiap sore langganan jamu kunir asem yang dicampur beras kencur)

Pos tambahan adalah biaya lain-lain seperti beli pakaian, uang life style (jajan di luar, ngopi, make up)
Pos darurat adalah dana darurat yang sekiranya akan kami butuhkan sekitar 6-12bulan ke depan. *ini yang kadang kebobolan
Pos sesepuh disini adalah pos dana untuk orang tua. Biar bagaimanapun kami masih selalu menyisihkan untuk orang tua. Besarnya tidak tentu, biasanya kami lihat kebutuhan kami dalam sebulan. 
Itu tadi gambaran kasarnya sih. Sampai detik ini pun sebenarnya saya masih kebingungan masalah keuangan ini. 
Ada yang mau share tentang financialnya? Boleh banget lohh... 

Kamis, 29 Oktober 2015

Rumah Tangga (1)

Kenapa judulnya "Rumah Tangga" ? Karena kali ini saya akan membahas tentang keseharian saya saat ini. Kenapa ada "(1)" ? Karena mungkin akan ada post "Rumah Tangga" yang lain. Bukan karena malas untuk mencari judul lain, tapi lebih simpel dibacanya *IMO.
***
Banyak di antara orang dewasa, usia 20an, menggebu-gebu ketika membicarakan tentang keinginan untuk menikah. Ya, disini saya bilang keinginan untuk menikah. Keinginan karena sebelum saya menikah pun rasanya juga seperti itu. Membayangkan kehidupan pernikahan akan selalu bahagia, dilimpahi dengan segala yang dimau (mungkin berlebihan). Ada yang seperti itu? Siap siap untuk -sedikit- kecewa. Eemmm... bukan maksud saya buat menakut-nakuti. Dan juga bukan maksud saya menyesali pernikahan atau tidak mensyukuri keadaan. Tapi, di usia pernikahan yang baru "minyik-minyik" a.k.a seumur bayi jagung, saya rasa kok yang saya alami beda jauh dari bayangan saya dulu ya...
Dulu bayangan saya, jadi ibu rumah tangga / full time mommy atau apa lah semacamnya, bakalan banyak waktu luang, bisa leyeh-leyeh setelah mengerjakan pekerjaan rumah. Taraaa..... kenyataannya? Big no!!! Saya bahkan merasa waktu 24jam dalam sehari itu kurang. Kemudian sering berandai-andai supaya sehari bisa 30jam mungkin lah. Dari buka mata pagi hari saya mulai memasak, mencuci, membersihkan rumah (yang rasanya gak pernah bersih, padahal tiap orang yang datang selalu bilang, "rapi banget" atau "bersih banget"), sore hari saya lanjutkan menyetrika, kemudian membersihkan rumah (lagi), memasak (lagi), cuci piring (lagi untum kesekian kalinya dalam sehari). Sekali lagi bukan saya mau mengeluh.
Sampai terkadang saya membatin, apa memang saya yang belum mampu dalam mengatur waktu atau pekerjaan ini memang tidak pernah memberi celah untuk saya bisa "leyeh-leyeh" sebentar, atau... entah yang lain saya masih belum paham.
Terkadang, saya sampai "pamit" ke suami, "hari ini adek nggak nyuci ya mas," atau "hari ini adek nggak nyetrika dulu mas," dan bahkan kadang pamit , "hari ini adek nggak masak dulu ya," Kalimat-kalimat seperti itu pernah saya ucapkan bukan karena malas (sebagai alasan utama), tapi kadang saya rasanya butuh me time lebih yang benar-benar bisa membuat saya lebih relax, pikiran lebih fresh, hati lebih tenang. Belum lagi kalau badan sedang kurang bersahabat buat bergerak. Saya sering merasa pusing, cepat capek, maag sering kambuh. Tapi anehnya, kalo badan kurang bersahabat, saya masih sering "menguatkan diri" buat berkegiatan. Berbeda sekali dengan alasan-alasan di atas tadi yang lebih mengarah ke pandangan-malas.
Kegiatan yang hanya diseputaran rumah membuat saya sedikit bosan. Belum lagi jika suami (sudah) ada di rumah. Perhatian saya seakan harus lebih fokus dalam melayani suami tanpa mengesampingkan pekerjaan lain.
Tapi alhamdulillah sejauh ini suami saya amat sangat mau kok berkolaborasi mengerjakan apa saja yang (sering) saya minta dia kerjakan. Sejak awal saya sudah berpesan ke suami, "kita tinggal di rumah berdua, nggak akan membayar orang untuk bantu-bantu kerjaan rumah, adek mau mas bantu jangan cuma diem aja." Bukan manja sih, cuma saya lebih suka suami bisa ikut terjun ke kerjaan rumah, walopun saya tidak bisa ikut terjun dalam pekerjaan suami. Bukan pekerjaan yang berat kok yang suami saya kerjakan kalau di rumah. Terkadang buang sampah, atau sekedar bantu taruh piring-piring dan lainnya setelah saya cuci, atau ketika weekend dia juga mau membantu saya mencuci baju sekedar menjemurnya atau kadang cuma menemani duduk di pintu. Saya sering meminta untuk ditemani, entah memasak atau mencuci. Alasannya? Biar saya tidak hanya diam, ada yang ajak ngobrol. Rasanya lebih senang aja jika ada suami di dekat saya. Saya lebih tidak mau jika antara kami membedakan gender, semua pekerjaan rumah sekiranya bisa dilakukan ya dilakukan saja. Untungnya suami juga memang sudah terbiasa turun tangan untuk urusan pekerjaan rumah.
Tidak ada alasan untuk tidak meringankan pekerjaan pasangan, bukan?
Kita semua ditakdirkan untuk saling membantu loh 