Sendu (lagi)...
Ya Rabb, ujian seperti apa lagi yang akan kami terima atas kesetiaan ini?
Jumat malam, sekitar pukul 20.40 mas sms saya, "dah bobok?" saya jawab "belum" padahal saya sempat tertidur. Sesaat setelah itu, bel rumah bunyi, ternyata mas datang. Kaget yang pasti karena mas baru saja pulang dari Semarang, dia buka jaket dan memang masih pakai baju kerjanya, name tag pun belum sempat dia lepas. Dia pamit untuk mandi sementara nunggu mas mandi, saya bikin teh panas untuk mas.
Seselesainya mas mandi, kami jama'ah sholat Isya'. Seperti biasa, setelah selesai berdoa, saya mencium tangannya, mas mencium kening saya. Dia memeluk saya erat, lamaaaa sekali. Saya bilang, "mas jangan pergi..." Rencananya dia akan naik gunung, tapi saya tidak mengijinkan. Entah, tapi perasaan saya tidak enak dalam seminggu ini, dan seminggu ini kami sempat ribut sampai 2kali dalam hal yang beda dan entah bagi saya sebenernya sepele. Tapi ya sudah lah.
Setelah itu saya duduk, mas juga. Tiba-tiba mas bilang, "dek, mas udah penempatan deh." Bulu kuduk langsung berdiri, kepala tiba-tiba pusing, dan perut serasa mual. Oke, psikosomatis deh. Mas mulai mendownload beberapa file, dia tidak mengatakan dimana dia ditempatkan kerja.
Setelah file bisa dibuka, dan ... "Ya Allah mas... Jauhh banget..." Saya sebisa mungkin tidak meneteskan air mata, saya harus kuat. Pikiran saya sudah tak menentu. Rasanya Allah menjawab ketidak enakan perasaan saya seminggu ini. Selain mas masih terlihat menginginkan untuk pergi naik gunung.
Tarakan. Apa yang saya tau dari kota ini? Nothing. Yang saya tahu hanya kota ini jauh, di utara sana. Perbatasan Indonesia Malaysia. God jobs, Kemenkeu! Such as a crazy life, saya membayangkannya.
Saya agak lega ketika kami mulai search beberapa info tentang kota kecil ini. Saya rasa tidak ada masalah untuk komunikasi kami. Kantor mas ada di KPP Pratama Tarakan, tempat ini ada di tengah kota (menurut info). Jarak dari bandara Juwata, ini merupakan bandara internasional, dapat ditempuh dalam waktu sekitar 8 menit menggunakan mobil. Ada mall di sana, kalau ga salah Grand Tarakan Mall, merupakan mall terbesar di provinsi baru dari pulau Kalimantan ini. Ayem lagi, mas ga perlu susah-susah. Pegawai baru yang dipindahkan di sana ada 4 orang, tapi mas tidak kenal semua, padahal teman satu angkatan. Saya rasa cukup untuk teman mas di sana. Semoga mereka bisa kerja sama, menjalin kekeluargaan, aamiin.
Hati saya masih tidak tenang, entah. Tapi sudah larut malam, saya memutuskan untuk tidur di kamar Bunda, mas sudah merem juga ternyata, capek banget ngeliat mukanya. Malam itu rasanya semakin ga enak. Saya ga bisa tidur, mau sms mas tapi takut ganggu. Sebentar-sebentar saya terbangun. Ya Allah, ga jenak banget rasanya. Sekitar pukul 2.45 saya memutuskan untuk bangun dan sholat tahajud, masuk kamar mas sudah tertidur, saya selimutin dia. Saya ambil air wudhu, sempat nangis sebentar, tapi saya kembali berkata dalam hati, "kuat, kuat, kuat, Ya Rabb. Ini demi kerjaan, dan nantinya demi kesejahteraan kami juga. Bismillah kuat." Berkali-kali saya mengucap demikian. Setelah sholat, saya masih berdiam di atas sajadah, rasanya ingin berlama-lama di dekat Allah. Menitipkannya pada sebaik-baik-Nya tempat penitipan. Walaupun sebenernya dia juga milik Allah. Masih tidak tenang, saya banyak beristighfar, mungkin memang sudah jalannya seperti ini. Saya hanya harus mendukung mas, semua yang terbaik untuk kami, Ya Allah. Kalau saya terus-terusan sedih, yang ada mas makin terbebani dan tidak konsentrasi dengan kerjaannya. Sekali lagi saya berkata, "Bismillah kuat..."
Siang harinya, saya ada di rumah orang tua mas. Seperti biasa weekend saya selalu di rumah mas ketika mas pulang. Setelah sholat ashar, entah kenapa, air mata ini menetes lagi. Kali ini mas ada di sebelah saya, semua ketakutan saya katakan pada mas. Perasaan dan hati kecil saya yang mungkin sudsh terikat dengan mas terlalu kuat, saya hanya takut ketika suatu saat hati saya tidak tenang, akan berasumsi yang tidak-tidak. Mas bilang, "ada Yang Di Atas dek, semua serahkan sama Yang Di Atas (Allah)." Bukan tidak percaya dengan penjagaan-Nya, hanya saja manusia terkadang tak peduli jika Allah selalu melihatnya, selalu tau setiap detik apa yang mereka lakukan. Saya masih nangis di pelukan mas. Rasanya lemas sekali badan ini, tak ingin beranjak dari pelukannya. Sampai saya sadar lagi, kenapa saya nangis lagi? Ini akan membuat mas semakin terbebani, astaghfirullah. Saya coba untuk diam, tarik napas dalam-dalam lalu saya buang. Mas masih memeluk saya, saya tau bagi mas juga ini sangat mendadak, bagi dia juga mungkin berat meninggalkan semuanya di sini. Tapi semua ada hikmahnya.
Mas...
Jaga diri baik-baik di sana, di kota orang. Adek percayakan semuanya sama mas. Dan semuanya juga, telah adek titipkan pada Allah, Sebaik-baiknya tempat penitipan. Semoga mas mendapat rejeki yang cukup, dilancarkan pekerjaannya, dilancarkan segala kehidupannya. Semoga mas selalu diberikan kesehatan oleh Allah.
Ya Rabb, Engkau sebaik-baiknya tempat penitipan. Jaga raga dan hatinya untuk hamba, untuk keluarganya.
Lindungi setiap langkahnya. Tuntun dia di jalan-Mu, Ya Allah.
Ya Rabb, limpahkan rizki-Mu dari segala arah kepadanya. Lancarkan segalanya. Sukseskan pekerjaannya. Murahkan rejekinya, semua demi orang-orang yang dia sayang.
Jika dia lelah, istirahatkan dia sejenak.
Ingatkan dia saat panggilan-Mu menggema di seluruh penjuru.
Ingatkan dia ketika ia tidak patuh pada perintah-Mu.
Dan ijinkan kami untuk bisa menyatu dalam kebahagiaan di dunia dan di akhirat
Ijinkan kami untuk menyatu, menyempurnakan agama kami, sesegera mungkin.
Ridhoi niatan kami, Ya Rabb.
Minggu, 30 Maret 2014
Senduku, Terjawab oleh-Nya
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar