Kamis, 31 Desember 2015

Sweetest 2015

Satu step dalam hidup terlalui sudah di tahun 2015. Bahagia? Pasti. Siapa sih yang tidak bahagia bisa memulai menjalani hidup baru sama pasangan seumur hidupnya? Rasanya tidak ada 😊
Selalu ada target dalam satu tahun apa yang harus dikejar, dibenahi, dikurangi mungkin. Banyak sekali yang tercapai tapi juga masih ada yang belum. Harus lebih banyak koreksi diri lagi. Apa yang membuat impian itu belum terwujud di tahun ini. Baik dari saya atau pun pasangan saya. Apa memang impian terlalu banyak tapi effort saya minus? Tentu lah.
Saya merasa semuanya sudah saya tumpahkan dalam doa tiap selesai sholat, setiap sujud. Ada yang kurang, BERSYUKUR. Akhir-akhir ini suami saya sering sekali mengingatkan saya untuk lebih banyak bersyukur. Iyaa, saya akui saya sedang boros sekali untuk mengejar gaya hidup. Saya orangnya lagi gampang panasan. Temen beli baju ini saya kepengen. Temen beli lipstick itu saya juga ngebet beli. Rasanya malah jadi korban mode aja. Padahal kalau dipikir-pikir lagi, ngapain juga saya beli lipstick ini itu merk a, b, model x, y, ahh entah lah.
Jadii kalau sudah begini sudah tau kan apa yang bikin impian belum tercapai? Yang dipengen A tapi yang dilakuin Z.
So apa target 2016?
Next pos yaaaa 😊

Sabtu, 31 Oktober 2015

Tanggal Tua dan Tanggal Muda

Siapapun pasti udah sering banget nih menikmati tanggal tua dan tanggal muda juga tanggal tengah-tengah. Apalagi bagi ibu bendahara. Pusingnya mengatur keuangan bisa sampai pasang koyo *ini berlebihan*
Berbagai keperluan, yang kalau sama saya disebut "pos", pasti butuh kejelian dan ketelitian dalam mengaturnya. Pernah dipuncak kebingungan ketika kami tidak ada uang yang bisa dipakai untuk berbelanja. Kejadian seperti itu saya yakini tidak hanya saya saja sih yang mengalaminya. Yang jadi pertanyaan adalah, bagaimana bisa mendapatkan uang kembali disaat seperti itu?
Kalau saya dan suami, kemarin sempat membobol tabungan dana darurat gara-gara kami tidak punya uang yang "selo" alias nganggur. Galaunya bertubi-tubi. Memikirkan bagaimana nanti kalau kami butuh uang darurat tersebut dalam keadaan yang lebih penting lagi, duuhh ampun deh.
Dengan amat sangat terpaksa akhirnya sekarang saya memperbanyak Pos. Dengan tujuan semoga bisa lebih cermat dalam gali lubang tutup lubangnya.
Berikut pos-pos dalam management saya :
Pos Bulanan
Pos Harian
Pos Tambahan
Pos Darurat
Pos Sesepuh
Sebenarnya Pos Darurat, Pos Sesepuh dan Pos Papan saya jabarkan dari Pos  Bulanan. Cuma yaa itu tadi, karena kejadian pembobolan jadi saya lebarkan lagi. 

Pos bulanan meliputi sedekah/zakat, ini paling utama bagi kami, tidak disisihkan tapi jadi sebuah kewajiban. Selain itu ada belanja bulanan atau kebutuhan dalam sebulan yang bisa di stok. Seperti sabun, shampoo, pasta gigi, beras, sabun cuci piring, detergen, pewangi, daily skincare, dan semacamnya. Juga untuk uang listrik, air, pulsa (kami menggunakan layanan pascabayar dan prabayar), televisi, dan majalah.

Pos harian adalah belanjaan seharian seperti sayur-sayuran, jamu sore (suami saya setiap sore langganan jamu kunir asem yang dicampur beras kencur)

Pos tambahan adalah biaya lain-lain seperti beli pakaian, uang life style (jajan di luar, ngopi, make up)
Pos darurat adalah dana darurat yang sekiranya akan kami butuhkan sekitar 6-12bulan ke depan. *ini yang kadang kebobolan
Pos sesepuh disini adalah pos dana untuk orang tua. Biar bagaimanapun kami masih selalu menyisihkan untuk orang tua. Besarnya tidak tentu, biasanya kami lihat kebutuhan kami dalam sebulan. 
Itu tadi gambaran kasarnya sih. Sampai detik ini pun sebenarnya saya masih kebingungan masalah keuangan ini. 
Ada yang mau share tentang financialnya? Boleh banget lohh... 

Kamis, 29 Oktober 2015

Rumah Tangga (1)

Kenapa judulnya "Rumah Tangga" ? Karena kali ini saya akan membahas tentang keseharian saya saat ini. Kenapa ada "(1)" ? Karena mungkin akan ada post "Rumah Tangga" yang lain. Bukan karena malas untuk mencari judul lain, tapi lebih simpel dibacanya *IMO.
***
Banyak di antara orang dewasa, usia 20an, menggebu-gebu ketika membicarakan tentang keinginan untuk menikah. Ya, disini saya bilang keinginan untuk menikah. Keinginan karena sebelum saya menikah pun rasanya juga seperti itu. Membayangkan kehidupan pernikahan akan selalu bahagia, dilimpahi dengan segala yang dimau (mungkin berlebihan). Ada yang seperti itu? Siap siap untuk -sedikit- kecewa. Eemmm... bukan maksud saya buat menakut-nakuti. Dan juga bukan maksud saya menyesali pernikahan atau tidak mensyukuri keadaan. Tapi, di usia pernikahan yang baru "minyik-minyik" a.k.a seumur bayi jagung, saya rasa kok yang saya alami beda jauh dari bayangan saya dulu ya...
Dulu bayangan saya, jadi ibu rumah tangga / full time mommy atau apa lah semacamnya, bakalan banyak waktu luang, bisa leyeh-leyeh setelah mengerjakan pekerjaan rumah. Taraaa..... kenyataannya? Big no!!! Saya bahkan merasa waktu 24jam dalam sehari itu kurang. Kemudian sering berandai-andai supaya sehari bisa 30jam mungkin lah. Dari buka mata pagi hari saya mulai memasak, mencuci, membersihkan rumah (yang rasanya gak pernah bersih, padahal tiap orang yang datang selalu bilang, "rapi banget" atau "bersih banget"), sore hari saya lanjutkan menyetrika, kemudian membersihkan rumah (lagi), memasak (lagi), cuci piring (lagi untum kesekian kalinya dalam sehari). Sekali lagi bukan saya mau mengeluh.
Sampai terkadang saya membatin, apa memang saya yang belum mampu dalam mengatur waktu atau pekerjaan ini memang tidak pernah memberi celah untuk saya bisa "leyeh-leyeh" sebentar, atau... entah yang lain saya masih belum paham.
Terkadang, saya sampai "pamit" ke suami, "hari ini adek nggak nyuci ya mas," atau "hari ini adek nggak nyetrika dulu mas," dan bahkan kadang pamit , "hari ini adek nggak masak dulu ya," Kalimat-kalimat seperti itu pernah saya ucapkan bukan karena malas (sebagai alasan utama), tapi kadang saya rasanya butuh me time lebih yang benar-benar bisa membuat saya lebih relax, pikiran lebih fresh, hati lebih tenang. Belum lagi kalau badan sedang kurang bersahabat buat bergerak. Saya sering merasa pusing, cepat capek, maag sering kambuh. Tapi anehnya, kalo badan kurang bersahabat, saya masih sering "menguatkan diri" buat berkegiatan. Berbeda sekali dengan alasan-alasan di atas tadi yang lebih mengarah ke pandangan-malas.
Kegiatan yang hanya diseputaran rumah membuat saya sedikit bosan. Belum lagi jika suami (sudah) ada di rumah. Perhatian saya seakan harus lebih fokus dalam melayani suami tanpa mengesampingkan pekerjaan lain.
Tapi alhamdulillah sejauh ini suami saya amat sangat mau kok berkolaborasi mengerjakan apa saja yang (sering) saya minta dia kerjakan. Sejak awal saya sudah berpesan ke suami, "kita tinggal di rumah berdua, nggak akan membayar orang untuk bantu-bantu kerjaan rumah, adek mau mas bantu jangan cuma diem aja." Bukan manja sih, cuma saya lebih suka suami bisa ikut terjun ke kerjaan rumah, walopun saya tidak bisa ikut terjun dalam pekerjaan suami. Bukan pekerjaan yang berat kok yang suami saya kerjakan kalau di rumah. Terkadang buang sampah, atau sekedar bantu taruh piring-piring dan lainnya setelah saya cuci, atau ketika weekend dia juga mau membantu saya mencuci baju sekedar menjemurnya atau kadang cuma menemani duduk di pintu. Saya sering meminta untuk ditemani, entah memasak atau mencuci. Alasannya? Biar saya tidak hanya diam, ada yang ajak ngobrol. Rasanya lebih senang aja jika ada suami di dekat saya. Saya lebih tidak mau jika antara kami membedakan gender, semua pekerjaan rumah sekiranya bisa dilakukan ya dilakukan saja. Untungnya suami juga memang sudah terbiasa turun tangan untuk urusan pekerjaan rumah.
Tidak ada alasan untuk tidak meringankan pekerjaan pasangan, bukan?
Kita semua ditakdirkan untuk saling membantu loh 

Senin, 28 September 2015

Weekend Style

Finally bisa update blog ini setelah lama males banget bersihin debunya. Bukan cuma efek keasyikan nikmatin happy.nya awal pernikahan sih tapi bener-bener deh rasanya sehari 24jam tuh kurang banget bagiku.
Sejak 30 Agustus kemarin aku pulang ke Jawa untuk persiapan acara pernikahan kakakku yg cowok. Jadi lumayan bisa extend sebulan di rumah. Beberapa minggu sebelum pulang rasanya happy banget, bakalan bisa di rumah tanpa bingung mau masak apa, pegel nyuci, pegel beberes rumah dan segala gawean lainnya. Tapi ternyata mendekati pulang malah sedih dan rasanya pengen gak jadi pulang cepet-cepet aja. Bukan tipe aku banget kalo bisa betah jauh sama pasangan. Dan kemarin setelah sampai di rumah pun, baru 2hari sudah nangis kangen sama suami yang sedang menjalani diklat di Balikpapan.
Alhamdulillah banyak banget rezeqi dari Allah selama jauhan sama suami. Sehari sebelum suami selesai diklat, aku sempat nangis-nangis lagi karena saking kangennya sama suami sampai akhirnya aku bawa di dalam doa, aku minta segera dipertemukan lagi dengan suami, alhamdulillah Allah langsung mengabulkan permintaanku. Malam hari suami bilang kalo dia akan pulang ke Magelang besok pagi supaya nggak bolak-balik (selang 5 hari suami ada dinas luar di Solo). Rasanya nggak berhenti bersyukur karena dikabulkan permintaannya. Terima kasih Ya... Rabb 
Jadwal kalo pulang Jawa adalah nonton dan kuliner. Selalu dan nggak pernah terlewatkan lah kalo itu.
Outfit in frame :
Fugahum limited shawl by Riamiranda
Peach top by T-shirt
Pants by Connextion
Cream shoes by Connextion

Selasa, 31 Maret 2015

Prewedding Photo Shoot

Berhubung udah mood buat share so mulai dari photoshoot kita aja ya..

Awalnya aku dan Mas gak mau pakai photo prewed karena setelah dipikir-pikir kita akan buat desain undangan yang simple, tanpa nyantumin foto. Alasannya sih cuma menyayangkan ketika besoknya undangan kita udah ga dipakai so pasti kebanyakan di loakin atau paling paling ngenes adalah dibakar. Duhh... beneran jadi butiran abu deh kita nanti.

Konsep photo pre wedding kita apa ya? Kita lebih pengen ke natural aja. Dekat dengan alam. Tidak lupa tema pastel aku pakai di sini. Alhamdulillah mas photografer mau kasih masukan macem-macem ke kita. Walopun jauh-jauh hari (jauh-jauh bulan malah) aku udah tunjukin beberapa konsep yang aku pengen.

Oh iya sebelumnya kenalin mas photografernya bisa ke Samakta Photography alhamdulillah mas ini adalah adek sepupu aku. So aku percayakan sepenuhnya masalah photo dan video baik pre wedding ataupun wedding kita nanti ke mas Noven ini.

Photo shoot dilakukan pada tanggal 28 Januari. Kenapa jauh-jauh hari kira udah photo shoot? Ini cuma karena nyamain waktunya sama mas photografer dan juga nunggu Mas pulang ke Magelang.
Ada kejadian lucu di pagi buta sebelum kita berangkat (ngakak dulu boleh lah ya ini hahahaha...) Jadi malem hari kita janjian sama Mas Noven untuk berangkat ke lokasi pertama tuh jam 6 pagi, jadi mau ga mau mas berangkat dari rumah sekitar jam 5. Pagi harinya sekitar jam 3 pagi lebih dikit tiba-tiba nada whatsapp bunyi, daann... tiba-tiba aja ya Mas kirim photo dia udah mandi, udah dandan kece. Aku masih goler-goler di tempat tidur secara itu masih jam berapa bookk... Usut punya usut, jadi jam yang Mas lihat itu adalah jam Tarakan alias waktu indonesia bagian tengah. Hal-hal kaya gini ini loh yang selalu bikin gemes sama Mas, di situ kadang saya merasa happy bianget. Maaf ya Mas jadi cerita di sini.

Oke lanjut. Akhirnya kita berangkat jam 6 pagi beneran, dingin dan jalanan rame bareng sama orang-orang yang mau sekolah dan mau berangkat kerja. Lokasi pertama adalah Bakorwil Kedu. Kenapa kita ambil tempat ini? Pertama karena konsepnya mengarah ke vintage (tapi gagal) so kita pilih tempat ini. Spot yang tadinya dibayangkan malah gak dipake karena pas itu ada geng nenek kakek yang lagi senam jantung sehat, tadinya pengen ikutan tapi ya apalah daya kita gak enak sama nenek kakeknya takut kalah semangat sama yang muda-muda ini hahaha... di lokasi pertama ini malah dapet spot bagus (tapi bikin jantungan). Apa itu? Yap semacam rumah pohon, eh bukan... Apa ya namanya... pokoknya itu di atas pohon. Dengan kostum yang notabene akunya pakai rok tapi untung aja pakai celana legging so bismillah aja akunya nurut buat naik demi photo yang bagus. gemeter? banget!! Secara akunya sekarang parno banget sama yang tinggi-tinggi gitu. Mas mah ketawa-ketawa aja sambil bilang "gapapa udah ayo naik dek, bagus kok dari sini.." duuhh raanya pengen lempar sepatu deh ke Mas.
edisi dibuang sayang. Lokasi : Bakorwil Kedu

Oke setelah beberapa puluh jepret di lokasi pertama, karena kita cuma dikasih waktu sejam oleh pihak Bakorwil so kita buru-buru pindah ke lokasi ke dua.

Lokasi ke dua di hutan pinus di daerah perbatasan Candimulyo dan Pakis. Kesan pertama udah jatuh cinta sejak masuk ke hutan pinus ini. Selain lokasinya yang gak susah di jangkau dan gak terlalu jauh dari jalan raya, hutan pinus ini seger banget. Udara asli pegunungan dengan bau khas tanahnya duuhhh, rasanya pengen goler-goleran.

Photo shoot di lokasi ke dua ini lumayan lama karena waktunya gak terbatas. Ada spot bagus sih sebenernya cuma agaknya kita udah kesiangan ke sana jadi kebanyakan sinar mataharinya (sotoyologinya keluar).
behind the scene. Lokasi : Hutan Pinus Candimulyo - Pakis, Magelang

Akhirnya selesai juga photo shoot pre wedding kali ini. Bismillah semoga hasilnya memuaskan.
Sekian sharing tentang photo shoot pre wedding kita.

H-31
(ini serius kerasa cepet banget...)



Minggu, 01 Maret 2015

H-61

Untuk calon suamiku

Terhitung dari malam ini, 61hari lagi aku sudah resmi menjadi istrimu, begitu juga denganmu
Satu per satu mimpi kita mulai terwujud
Masih ingat kan bagaimana kita merangkai mimpi itu?
Kelak, jangan biarkan mimpi yang sudah jadi nyata itu hilang ditelan waktu
Kita harus pandai memupuknya
Kebahagiaan akan selalu tumbuh seiring usaha kita untuk menjaganya agar tetap ada

Satu pesan yang malam ini ingin aku sampaikan
Boleh saja kamu tidak bisa menuruti kemauan istrimu
Tapi aku mohon, bantu aku untuk bisa mendidik anak-anak kita kelak menjadi anak-anak yang mampu dan peka dalam memahami keadaan
Aku tidak akan memaksamu untuk berada sepenuhnya di antara kami
Kami pun akan memahami jika suatu saat kamu merasa lelah dan tak ada waktu untuk sekedar mengecup kening anak-anak
Tapi setidaknya, suatu saat kamu mau meluangkan waktumu sekedar menjadi kuda bagi koboi kecilmu ketika dia membukakan pintu untukmu
Jangan berikan mainan jika memang kamu tak sanggup untuk menemaninya bermain
Mainan itu tak akan berarti ketika mereka mulai tumbuh dewasa
Bercengkramalah, berceritalah seluas-luasnya imajinasimu tentang apapun
Kelak, cerita itu yang akan mereka ingat
Kelak, mereka merasakan adanya ayah mereka sebagai teman