Kamis, 14 November 2013

Menebus Kekecewaan

Hal apa yang bisa aku lakukan untuk bisa menebus kesalahan di masa lalu?
Ya...
Saat itu, H-2 hari pengukuhanku sebagai seorang sarjana psikologi. Siapa yang tidak bahagia menyambutnya? Semuanya sudah ku persiapkan. Termasuk meminta orang-orang terdekatku untuk bisa ikut merayakan kebahagiaan itu, juga kamu. Jauh hari aku tau kamu akan datang, sekedar menyalamiku atau membawakan bunga sebagai ucapan selamat. Namun tiba-tiba kamu memutuskan untuk tidak datang. Aku tau apa yang sedang ada dalam pikiranmu. Aku pun memaafkan.
Yang sampai detik ini menjadi sesalku adalah alasan-entah- apa yang membuat aku memintamu untuk tidak menghubungiku di hari bahagia itu. Kecewa? Iya saat itu aku kecewa atas keputusan yang kamu buat. Namun apa lagi yang aku bisa katakan selain tetap mengiyakan. Dan (mungkin) kamu juga kecewa. Karena aku pun meminta untuk tidak menghubungiku di hari itu. Alasanku saat itu hanya aku tidak ingin hari bahagiaku, akan rusak dengan kekecewaan.
Di sela senyum bahagia Sabtu itu, aku cemas, berkali-kali membuka ponselku. Memastikanmu dalam keadaan baik-baik saja. Tentu dengan sejuta gengsiku, dengan diamku tanpa menyapamu. Hanya kiriman foto dengan ucapan "Selamat Wisuda" darimu yang masuk ke ponselku.
Bahagiaku tak sesempurna itu ketika aku tau kamu sangat menjaga perasaanku. Menjaga agar moodku baik-baik saja di hari itu. Tentu dengan merelakan perasaan kecewamu, bukan?
Kini biarkan aku tau, apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahan itu. Menebus perasaan kecewamu atas sikapku yang terkadang membiarkanmu terdiam begitu saja.
Pada dasarnya aku pun tak bisa membiarkanmu kecewa (lagi).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar