Kamu itu jahat
Membuat aku berhenti mencari
Kenyamanan, ketenangan, dan kedamaian
Kamu menyuguhkannya secara sempurna
Selayaknya Tuhan memberikan sejuknya udara di ketinggian
Tak akan pernah ragu tuk tinggal dan menetap dalam ruang hatimu
Kini saatnya aku bangun mimpiku di selasar hatimu
Terima kasih lelaki
Atas hatimu sebagai pemberhentian terakhirku
Rabu, 25 Desember 2013
Halte Terakhir
Selasa, 10 Desember 2013
2W (Woman and Work)
Wanita dan bekerja :)
Aku dibesarkan di keluarga yang semuanya mencintai pekerjaan, bahkan ibuku sendiri seorang karyawan di salah satu BUMD. Sejak kecil, aku pun terbiasa hidup dengan pembantu. Ibu kerja dari jam 7 pagi sampai jam 3 sore. Dulu, sewaktu tempat kerja beliau masih jauh dari rumah, ibu berangkat kerja sejak jam 6 pagi dan sampai di rumah baru jam 5 sore. Sepulang beliau kerja, beliau hanya sempat mengerjakan beberapa pekerjaan rumah, selain karena sudah dikerjakan oleh pembantu ya karena beliau juga sudah capek pastinya :).
Sebagai pekerja kantoran, jam kerja beliau tidak fleksibel kan?
Mengurus anak?
Sejak kecil aku terbiasa belajar sendiri, ibu dan ayah hanya menunggu belajar sambil nonton tivi atau tiduran. Hanya sesekali jika aku bertanya saja mereka membantuku menjawab pertanyaan yang tidak aku tau jawabannya. Sebagai anak yang pemikiran belum matang aku hanya tau, "mereka capek seharian kerja."
***
Sekarang aku sudah (merasa) dewasa, semakin banyak pengalaman dari orang-orang sekitarku tentang wanita dan kerja. Aku tau, agama pun tidak pernah melarang seorang wanita untuk bekerja, untuk memiliki penghasilan sendiri. Yang aku pahami, agama selalu menekankan bahwa seorang wanita yang sudah menikah, wajib membantu suaminya mengurus rumah tangganya dan menjaga amanah yang telah "diberikan" oleh suaminya. Termasuk di dalamnya antara lain, memastikan "keadaan" di rumah baik-baik saja dan ketika sudah diberikan keturunan ya.. dia harus mendidik, merawat dan memastikan anaknya berkembang dengan baik, ya bukan?
Sejak dulu aku bercita-cita menjadi wanita kantoran, punya penghasilan sendiri, dan dengan penghasilan yang aku punya aku bisa membeli apapun yang aku inginkan. Dan ketika aku mulai kuliah dan banyak mengambil mata kuliah klinis dan perkembangan, sejak itu aku semakin menjauhkan diri dari cita-cita bekerja kantoran. Entah, tapi rasanya aku hanya ingin bekerja untuk bisa punya kegiatan bisa bergerak. Bukan semata ingin punya penghasilan. Mungkin bagi sebagian orang, aku terlalu yakin dan terlalu percaya diri untuk bisa mendapatkan pasangan yang bisa menghidupiku *lahir dan batin* sepenuhnya, tapi memang begitu adanya. Matre? Haha lucu kalau ada orang berkata demikian. Hidup yang realistis aja, memangnya sebagai wanita tidak boleh minta di-"hidup"-i oleh pasangannya? Please think again :)
Bukan karena aku tidak bisa membagi waktu jika aku berada di posisi wanita kantoran, bukan. Tapi sebagai wanita kantoran di waktu sekarang ini bagiku semakin dijauhkan dari kata mampu menyeimbangi kewajibannya sebagai istri dan ibu. Jam terbang kantoran sekarang benar-benar menyiksa kalau bagiku. Paling tidak, menghabiskan waktu 10 jam sendiri di kantor. Belum lagi ketika nanti sepulang bekerja capek, dan pekerjaan rumah lainnya masih belum aku selesaikan. Salut bagi para wanita di luar sana yang mampu mengerjakan semuanya TANPA mengesampingkan kewajiban utamanya -yang ada di rumah-. Bukan berarti aku menyerah sebelum bertanding. Tapi aku orang yang memang selalu memikirkan -segala yang akan aku kerjakan- matang dulu.
Alhamdulillah aku punya bakat yang mungkin turun dari ayahku. Aku orang yang ga bisa diem dan tergolong kreatif *narsis dikit gapapa, jangan perotes!*. Aku merasa ini akan jadi senjataku nanti jika memang takdirnya aku adalah ibu rumah tangga. Hihihi. Mungkin sekarang kurang menjanjikan, tapi aku yakin kok kalau memang aku bisa menekuninya, pasti bisa menghasilkan uang, paling tidak aku bisa beli daily make up sendiri :'D.
Banyak sekali pertimbangan yang ada ketika aku memutuskan untuk membuang jauh dari cita-cita menjadi wanita kantoran. Mungkin awalnya akan banyak "gerundelan" dari orang sekitar, tapi sih bismillah aja. Niat baik kan emang ga selamanya orang bisa nerima. Yang ada dibayanganku sih bakalan banyak cobaan buat pengen jadi wanita kantoran itu, cuma bayangan bahagia ketika aku bisa menjadi kebanggaan suami dan anak-anakku juga ga kalah banyak. Aku akan jadi satu-satunya orang yang memasakkan makanan sehat untuk keluarga kecilku. Aku akan jadi satu-satunya orang yang merapikan rumah dan memastikan isi rumah dalam keadaan rapi dan bersih setiap harinya, walaupun nanti ketika hari libur aku akan dibantu oleh pasanganku ya! Dan ketika Allah sudah mulai mengamanahkan anak pada kami, aku satu-satunya orang yang akan menggantikan popoknya, memastikan semua yang dia makan adalah makanan yang sehat, bukan sembarang makanan. Aku yang akan menyusuinya sampai dia umur 2 tahun. Aku juga ingin jadi orang yang pertama tau dia bisa tengkurap, dia bisa duduk, dia bisa merangkak, dia bisa berdiri, dia bisa berjalan, berlari bahkan ketika pertama kali dia bisa bilang "ibu". Aku ingin jadi orang pertama dari semua kejadian itu. Dan bagiku, semua akan jadi nyata jika pengasuhan itu sepenuhnya jadi kewajibanku. Bukan orang tuaku (kakek- neneknya) bahkan pembantu, bukan.
*cerita di atas terlalu semangat*
Tapi karena saat ini aku masih menjadi hak sepenuhnya dari ke dua orang tuaku, sebisa mungkin aku akan mencari pekerjaan setidaknya untuk membahagiakan mereka dengan keringat aku sendiri. Ya... dan ketika aku sudah resmi menjadi hak pasanganku dan ayahku melepaskan haknya, aku akan mengabadikan sisa hidupku buat pasanganku. Selama dia memintaku untuk kebaikan, semua akan aku lakukan, atas ijin Allah SWT tentunya :)
Aku dibesarkan di keluarga yang semuanya mencintai pekerjaan, bahkan ibuku sendiri seorang karyawan di salah satu BUMD. Sejak kecil, aku pun terbiasa hidup dengan pembantu. Ibu kerja dari jam 7 pagi sampai jam 3 sore. Dulu, sewaktu tempat kerja beliau masih jauh dari rumah, ibu berangkat kerja sejak jam 6 pagi dan sampai di rumah baru jam 5 sore. Sepulang beliau kerja, beliau hanya sempat mengerjakan beberapa pekerjaan rumah, selain karena sudah dikerjakan oleh pembantu ya karena beliau juga sudah capek pastinya :).
Sebagai pekerja kantoran, jam kerja beliau tidak fleksibel kan?
Mengurus anak?
Sejak kecil aku terbiasa belajar sendiri, ibu dan ayah hanya menunggu belajar sambil nonton tivi atau tiduran. Hanya sesekali jika aku bertanya saja mereka membantuku menjawab pertanyaan yang tidak aku tau jawabannya. Sebagai anak yang pemikiran belum matang aku hanya tau, "mereka capek seharian kerja."
***
Sekarang aku sudah (merasa) dewasa, semakin banyak pengalaman dari orang-orang sekitarku tentang wanita dan kerja. Aku tau, agama pun tidak pernah melarang seorang wanita untuk bekerja, untuk memiliki penghasilan sendiri. Yang aku pahami, agama selalu menekankan bahwa seorang wanita yang sudah menikah, wajib membantu suaminya mengurus rumah tangganya dan menjaga amanah yang telah "diberikan" oleh suaminya. Termasuk di dalamnya antara lain, memastikan "keadaan" di rumah baik-baik saja dan ketika sudah diberikan keturunan ya.. dia harus mendidik, merawat dan memastikan anaknya berkembang dengan baik, ya bukan?
Sejak dulu aku bercita-cita menjadi wanita kantoran, punya penghasilan sendiri, dan dengan penghasilan yang aku punya aku bisa membeli apapun yang aku inginkan. Dan ketika aku mulai kuliah dan banyak mengambil mata kuliah klinis dan perkembangan, sejak itu aku semakin menjauhkan diri dari cita-cita bekerja kantoran. Entah, tapi rasanya aku hanya ingin bekerja untuk bisa punya kegiatan bisa bergerak. Bukan semata ingin punya penghasilan. Mungkin bagi sebagian orang, aku terlalu yakin dan terlalu percaya diri untuk bisa mendapatkan pasangan yang bisa menghidupiku *lahir dan batin* sepenuhnya, tapi memang begitu adanya. Matre? Haha lucu kalau ada orang berkata demikian. Hidup yang realistis aja, memangnya sebagai wanita tidak boleh minta di-"hidup"-i oleh pasangannya? Please think again :)
Bukan karena aku tidak bisa membagi waktu jika aku berada di posisi wanita kantoran, bukan. Tapi sebagai wanita kantoran di waktu sekarang ini bagiku semakin dijauhkan dari kata mampu menyeimbangi kewajibannya sebagai istri dan ibu. Jam terbang kantoran sekarang benar-benar menyiksa kalau bagiku. Paling tidak, menghabiskan waktu 10 jam sendiri di kantor. Belum lagi ketika nanti sepulang bekerja capek, dan pekerjaan rumah lainnya masih belum aku selesaikan. Salut bagi para wanita di luar sana yang mampu mengerjakan semuanya TANPA mengesampingkan kewajiban utamanya -yang ada di rumah-. Bukan berarti aku menyerah sebelum bertanding. Tapi aku orang yang memang selalu memikirkan -segala yang akan aku kerjakan- matang dulu.
Alhamdulillah aku punya bakat yang mungkin turun dari ayahku. Aku orang yang ga bisa diem dan tergolong kreatif *narsis dikit gapapa, jangan perotes!*. Aku merasa ini akan jadi senjataku nanti jika memang takdirnya aku adalah ibu rumah tangga. Hihihi. Mungkin sekarang kurang menjanjikan, tapi aku yakin kok kalau memang aku bisa menekuninya, pasti bisa menghasilkan uang, paling tidak aku bisa beli daily make up sendiri :'D.
![]() |
| ini salah satu handmade aku, bagus kan? iyain aja biar seneng ya :) |
Banyak sekali pertimbangan yang ada ketika aku memutuskan untuk membuang jauh dari cita-cita menjadi wanita kantoran. Mungkin awalnya akan banyak "gerundelan" dari orang sekitar, tapi sih bismillah aja. Niat baik kan emang ga selamanya orang bisa nerima. Yang ada dibayanganku sih bakalan banyak cobaan buat pengen jadi wanita kantoran itu, cuma bayangan bahagia ketika aku bisa menjadi kebanggaan suami dan anak-anakku juga ga kalah banyak. Aku akan jadi satu-satunya orang yang memasakkan makanan sehat untuk keluarga kecilku. Aku akan jadi satu-satunya orang yang merapikan rumah dan memastikan isi rumah dalam keadaan rapi dan bersih setiap harinya, walaupun nanti ketika hari libur aku akan dibantu oleh pasanganku ya! Dan ketika Allah sudah mulai mengamanahkan anak pada kami, aku satu-satunya orang yang akan menggantikan popoknya, memastikan semua yang dia makan adalah makanan yang sehat, bukan sembarang makanan. Aku yang akan menyusuinya sampai dia umur 2 tahun. Aku juga ingin jadi orang yang pertama tau dia bisa tengkurap, dia bisa duduk, dia bisa merangkak, dia bisa berdiri, dia bisa berjalan, berlari bahkan ketika pertama kali dia bisa bilang "ibu". Aku ingin jadi orang pertama dari semua kejadian itu. Dan bagiku, semua akan jadi nyata jika pengasuhan itu sepenuhnya jadi kewajibanku. Bukan orang tuaku (kakek- neneknya) bahkan pembantu, bukan.
*cerita di atas terlalu semangat*
Tapi karena saat ini aku masih menjadi hak sepenuhnya dari ke dua orang tuaku, sebisa mungkin aku akan mencari pekerjaan setidaknya untuk membahagiakan mereka dengan keringat aku sendiri. Ya... dan ketika aku sudah resmi menjadi hak pasanganku dan ayahku melepaskan haknya, aku akan mengabadikan sisa hidupku buat pasanganku. Selama dia memintaku untuk kebaikan, semua akan aku lakukan, atas ijin Allah SWT tentunya :)
Jumat, 06 Desember 2013
I Think It's Jumuah Mubarak :)
Kali ini aku tidak akan melebih-lebihkan
Ini yang aku rasakan
Sederhana...
Aku bahagia
Bahagia karena aku mencintainya
Bahagia karena dia milikku seutuhnya, tanpa ada yang menghalangi
Bahagia karena dia mencintaiku
Sesederhana itu
Lebih sederhana dari makan nasi dengan tempe
Atau nasi dengan kecap dan juga kerupuk
Iya kan, mas :))
Selamat hari Jum'at mas, inget besok kita ketemu :D
Ini yang aku rasakan
Sederhana...
Aku bahagia
Bahagia karena aku mencintainya
Bahagia karena dia milikku seutuhnya, tanpa ada yang menghalangi
Bahagia karena dia mencintaiku
Sesederhana itu
Lebih sederhana dari makan nasi dengan tempe
Atau nasi dengan kecap dan juga kerupuk
Iya kan, mas :))
Selamat hari Jum'at mas, inget besok kita ketemu :D
Rabu, 04 Desember 2013
Absis, Ordinat
Apa sebenarnya yang membuat seseorang berani berkomitmen?
Keyakinan?
Dari titik mana keyakinan itu bisa membawa seseorang ke dalam sebuah komitmen?
Ataukah keyakinan itu sendiri yang menjadi sebuah titik
Lalu, apakah hati sebagai absis dan pikiran menjadi ordinatnya?
Ada hal lain?
Katakan pada saya
Sosok yang meragukan sebuah komitmen atas dasar keyakinan semata
Pada nyatanya ketika keyakinan itu digoyahkan oleh waktu
Hati hanya bisa berputar
Berbolak-balik sesukanya
Dan mulut hanya terkunci rapat
Tak mampu berucap
Perlahan, sebuah kehangatan menetes
Ada makna terselip dalam aliran kehangatan yang mengalami gravitasi
Bukan kelelahan
Mungkin saja gumpalan kebahagiaan yang berbalut ketidakpastian
Dan hanya dapat dipastikan oleh waktu yang semakin berjalan maju
Selasa, 03 Desember 2013
Teman Hidup
"Bila di depan nanti banyak cobaan untuk kisah cinta kita, jangan cepat menyerah...
Kau punya aku, ku punya kamu selamanya akan begitu..."
Setelah beberapa waktu yang lalu aku memberanikan diri untuk mengambil sebuah keputusan (bisa dibilang berat, tapi ternyata tidak berat dan tidak menimbulkan penyesalan) semakin jatuh cinta sama lagu ini.
Serasa mendedikasikan diri sebagai pendamping hidup seorang lelaki yang selama ini aku dibuat penasaran mati-matian oleh dia.
Aku mencintainya, tulus memberikan sepenuhnya apa yang aku miliki, kasih sayangku kepada sosok itu. Aku mencintainya, ikhlas menerima apapun kekurangan yang dia punya. Aku sadar, bahwa memang kita diciptakan untuk saling melengkapi, untuk saling menutupi kekurangan masing-masing, untuk saling menjadikan hidup kita lebih sempurna.
Walaupun aku pernah mencintaimu dalam diam, tapi hingga kini aku tau jika diam itu akan berbalas. Berbalas senyuman indah dengan hati yang terbuka lebar untukku. Izinkan aku untuk menjadi orang yang menutup dan mengunci hatimu rapat-rapat. Biarkan aku seorang untuk menaungi luasnya hatimu, sendiri. Aku tak akan mengusik yang lain, tapi juga tak akan membiarkan jika aku terusik.
Inilah caraku untuk mencintaimu, sebaik-baiknya cara yang aku berikan.
Senin, 02 Desember 2013
"Sebelum Aku Menjadi Istrimu"
Biarin aku ngoceh dulu ya,
Jadi gini *rapiin hijab*
Beberapa hari yang lalu mas pergi ke toko buku, sewaktu aku tanya nyariin buku apa, dia bilang nggak tau mau nyari apa. Entah tapi emang dasarnya aku orangnya sering isengin orang, jadi iseng banget minta dicariin buku tips apa gitu ya buat penunjang masa depan (ciye.....) *ehem..* *rapiin hijab lagi*. Kirain sama mas nggak diturutin tuh, karena dia juga tau aku orangnya iseng. Kemaren Minggu iseng (lagi) ngubek-ubekin tasnya mas dan mata langsung ngarah ke bungkusan plastik putih. Mas bilang itu buat aku, kirain mas bohong soalnya muka dia sambil cengar-cengir gitu (ini yang bikin aku kepincut sama dia selama ini). Nah kan meragukan ya, muka cengar-cengir gitu. Tapi bungkusan itu diambil juga sama mas akhirnya, dia buka, dia kasih ke aku (dalam hati: "Ya ampun, makin dibikin kepincut deh aku sama mas ni"). Yay, dan inilah penampakan dari buku yang berhasil mas bawa pulang buat aku.
Ini makin cengar-cengir aja baca judulnya. Langsung deh aku buka, aku baca bagian depannya. Baru dapet berapa halaman, sama mas sudah diambil, disuruh baca di rumah aja katanya. Su'udzan sama mas nih agaknya dia ngusir aku biar cepet pulang nih >o< Penasaran banget pengen baca semuanya. Sampai detik ini sih baru 129 halaman yang sudah aku baca dari 217 halaman. Isinya sih udah menyeluruh ya, persiapan sebelum jadi istri, dari persiapan secara jasmani maupun rohani. Not bad lah kalau menurutku. Dan bagian yang sangat menarik bagiku yaa..... *uhuuuk...* tentang hamil, melahirkan dan menyusui buah hati dari pernikahan kita. (duuuh makin pengen...). Sempet ngintip bagian belakang, ada beberapa resep masakan juga.
Emmm.. ngomongin isi bukunya besok lagi deh ya, kalau udah baca semuanya nanti in shaa Allah aku sempetin bagi-bagi cerita lagi. Anyway, Makasih banget ya mas buat bukunya, semoga bermanfaat buat aku, dan makin bikin mantep lagi buat melangkah ke step selanjutnya. (gak usah dikode harusnya sudah tau lah ya..) dan nggak tau mesti ngomong gimana lagi, intinya bersyukur banget punya pasangan seperti mas, pinter banget ngambil hati aku. Semoga ini semua memang hak kita berdua atas apa yang pernah kita perjuangkan sampe bisa di keadaan yang seperti ini. Maaf juga kalau akunya ga bisa ala-ala romantis seperti yang udah mas kasih ke aku. Ah, pokoknya mau bilang kalau aku tuh bersyukur dan beruntung banget dapet pasangan seperti mas gini ini. *nguap*
Emmm....
Sudah dulu lah ngocehnya, berhubung sudah malem, aku pamit tidur dulu.. Buat siapapun yang baca, terima kasih ya udah nyempetin baca. Kalau penasaran banget, monggo beli. Kalau mau sabar, ya nunggu aku cerita aja kali ya? Oke *merem*.
Selamat malam semuanya, have a nice dream yaaa :)
Langganan:
Komentar (Atom)


