Rabu, 04 Desember 2013

Absis, Ordinat

Apa sebenarnya yang membuat seseorang berani berkomitmen?
Keyakinan?
Dari titik mana keyakinan itu bisa membawa seseorang ke dalam sebuah komitmen?
Ataukah keyakinan itu sendiri yang menjadi sebuah titik
Lalu, apakah hati sebagai absis dan pikiran menjadi ordinatnya?
Ada hal lain?
Katakan pada saya
Sosok yang meragukan sebuah komitmen atas dasar keyakinan semata
Pada nyatanya ketika keyakinan itu digoyahkan oleh waktu
Hati hanya bisa berputar
Berbolak-balik sesukanya
Dan mulut hanya terkunci rapat
Tak mampu berucap
Perlahan, sebuah kehangatan menetes 
Ada makna terselip dalam aliran kehangatan yang mengalami gravitasi
Bukan kelelahan
Mungkin saja gumpalan kebahagiaan yang berbalut ketidakpastian
Dan hanya dapat dipastikan oleh waktu yang semakin berjalan maju


Tidak ada komentar:

Posting Komentar