Selasa, 10 Desember 2013

2W (Woman and Work)

Wanita dan bekerja :)


Aku dibesarkan di keluarga yang semuanya mencintai pekerjaan, bahkan ibuku sendiri seorang karyawan di salah satu BUMD. Sejak kecil, aku pun terbiasa hidup dengan pembantu. Ibu kerja dari jam 7 pagi sampai jam 3 sore. Dulu, sewaktu tempat kerja beliau masih jauh dari rumah, ibu berangkat kerja sejak jam 6 pagi dan sampai di rumah baru jam 5 sore. Sepulang beliau kerja, beliau hanya sempat mengerjakan beberapa pekerjaan rumah, selain karena sudah dikerjakan oleh pembantu ya karena beliau juga sudah capek pastinya :).
Sebagai pekerja kantoran, jam kerja beliau tidak fleksibel kan?

Mengurus anak?

Sejak kecil aku terbiasa belajar sendiri, ibu dan ayah hanya menunggu belajar sambil nonton tivi atau tiduran. Hanya sesekali jika aku bertanya saja mereka membantuku menjawab pertanyaan yang tidak aku tau jawabannya. Sebagai anak yang pemikiran belum matang aku hanya tau, "mereka capek seharian kerja."

***

Sekarang aku sudah (merasa) dewasa, semakin banyak pengalaman dari orang-orang sekitarku tentang wanita dan kerja. Aku tau, agama pun tidak pernah melarang seorang wanita untuk bekerja, untuk memiliki penghasilan sendiri. Yang aku pahami, agama selalu menekankan bahwa seorang wanita yang sudah menikah, wajib membantu suaminya mengurus rumah tangganya dan menjaga amanah yang telah "diberikan" oleh suaminya. Termasuk di dalamnya antara lain, memastikan "keadaan" di rumah baik-baik saja dan ketika sudah diberikan keturunan ya.. dia harus mendidik, merawat dan memastikan anaknya berkembang dengan baik, ya bukan?

Sejak dulu aku bercita-cita menjadi wanita kantoran, punya penghasilan sendiri, dan dengan penghasilan yang aku punya aku bisa membeli apapun yang aku inginkan. Dan ketika aku mulai kuliah dan banyak mengambil mata kuliah klinis dan perkembangan, sejak itu aku semakin menjauhkan diri dari cita-cita bekerja kantoran. Entah, tapi rasanya aku hanya ingin bekerja untuk bisa punya kegiatan bisa bergerak. Bukan semata ingin punya penghasilan. Mungkin bagi sebagian orang, aku terlalu yakin dan terlalu percaya diri untuk bisa mendapatkan pasangan yang bisa menghidupiku *lahir dan batin* sepenuhnya, tapi memang begitu adanya. Matre? Haha lucu kalau ada orang berkata demikian. Hidup yang realistis aja, memangnya sebagai wanita tidak boleh minta di-"hidup"-i oleh pasangannya? Please think again :)

Bukan karena aku tidak bisa membagi waktu jika aku berada di posisi wanita kantoran, bukan. Tapi sebagai wanita kantoran di waktu sekarang ini bagiku semakin dijauhkan dari kata mampu menyeimbangi kewajibannya sebagai istri dan ibu. Jam terbang kantoran sekarang benar-benar menyiksa kalau bagiku. Paling tidak, menghabiskan  waktu 10 jam sendiri di kantor. Belum lagi ketika nanti sepulang bekerja capek, dan pekerjaan rumah lainnya masih belum aku selesaikan. Salut bagi para wanita di luar sana yang mampu mengerjakan semuanya TANPA mengesampingkan kewajiban utamanya -yang ada di rumah-. Bukan berarti aku menyerah sebelum bertanding. Tapi aku orang yang memang selalu memikirkan -segala yang akan aku kerjakan- matang dulu.

Alhamdulillah aku punya bakat yang mungkin turun dari ayahku. Aku orang yang ga bisa diem dan tergolong kreatif *narsis dikit gapapa, jangan perotes!*. Aku merasa ini akan jadi senjataku nanti jika memang takdirnya aku adalah ibu rumah tangga. Hihihi. Mungkin sekarang kurang menjanjikan, tapi aku yakin kok kalau memang aku bisa menekuninya, pasti bisa menghasilkan uang, paling tidak aku bisa beli daily make up sendiri :'D.
ini salah satu handmade aku, bagus kan? iyain aja biar seneng ya :)

Banyak sekali pertimbangan yang ada ketika aku memutuskan untuk membuang jauh dari cita-cita menjadi wanita kantoran. Mungkin awalnya akan banyak "gerundelan" dari orang sekitar, tapi sih bismillah aja. Niat baik kan emang ga selamanya orang bisa nerima. Yang ada dibayanganku sih bakalan banyak cobaan buat pengen jadi wanita kantoran itu, cuma bayangan bahagia ketika aku bisa menjadi kebanggaan suami dan anak-anakku juga ga kalah banyak. Aku akan jadi satu-satunya orang yang memasakkan makanan sehat untuk keluarga kecilku. Aku akan jadi satu-satunya orang yang merapikan rumah dan memastikan isi rumah dalam keadaan rapi dan bersih setiap harinya, walaupun nanti ketika hari libur aku akan dibantu oleh pasanganku ya! Dan ketika Allah sudah mulai mengamanahkan anak pada kami, aku satu-satunya orang  yang akan menggantikan popoknya, memastikan semua yang dia makan adalah makanan yang sehat, bukan sembarang makanan. Aku yang akan menyusuinya sampai dia umur 2 tahun. Aku juga ingin jadi orang yang pertama tau dia bisa tengkurap, dia bisa duduk, dia bisa merangkak, dia bisa berdiri, dia bisa berjalan, berlari bahkan ketika pertama kali dia bisa bilang "ibu". Aku ingin jadi orang pertama dari semua kejadian itu. Dan bagiku, semua akan jadi nyata jika pengasuhan itu sepenuhnya jadi kewajibanku. Bukan orang tuaku (kakek- neneknya) bahkan pembantu, bukan.

*cerita di atas terlalu semangat*

Tapi karena saat ini aku masih menjadi hak sepenuhnya dari ke dua orang tuaku, sebisa mungkin aku akan mencari pekerjaan setidaknya untuk membahagiakan mereka dengan keringat aku sendiri. Ya... dan ketika aku sudah resmi menjadi hak pasanganku dan ayahku melepaskan haknya, aku akan mengabadikan sisa hidupku buat pasanganku. Selama dia memintaku untuk kebaikan, semua akan aku lakukan, atas ijin Allah SWT tentunya :)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar