Bukankah rasamu beberapa waktu lalu mampu menghapuskan air mata ini?
Lantas kenapa selanjutnya ragamu membiarkan aku beranjak?
Pun tak mampu mengulurkan kokohnya tanganmu untuk menyeka tetesan kesedihan
Bukankah mulutmu pernah berucap tidak akan membiarkanku berlarut dalam sedih?
Nyatanya kamu merelakan angin mengeringkan tetesan air mataku
Apa kamu memang tak sekuat itu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar