Pada kenyataannya
Sinar matahari belum bisa
Melunturkan rasa sayang ini
Lalu siapa yang bisa?
Kamu?
Aku sendiri?
Bukan
Tapi takdir
Kita ikuti goresan takdir kita
Nikmati apa yang diberikan Allah
Sama seperti kamu
Menikmati matahari terbit dari ufuk timur
Merasakan hangat sinarnya
Tanpa mengeluhkan betapa lelahnya
Kamu menanti pagi
Rabu, 31 Juli 2013
Selasa, 30 Juli 2013
Piece of Cake in Life [?]
Dingin pagi tak terasa
Aku melihat pesan singkat ini
"love is just piece of cake in life"
Hah!
Crazy
Seandainya kamu tahu
Dan menyadari
Tak akan ada kamu di dunia ini
Jika ketulusan hati seseorang hanya sebatas itu
Tak sebahagia ini
Jika kamu merasa bahwa cinta hanya sekecil itu
Katanya "Cinta tak hanya sebatas kata"
Bagi orang itu hanya sebatas lagu
Tidak bagiku, aku membenarkannya
Salah jika hanya mengartikan cinta sesempit itu
Karena cinta tak sesempit dunia
Yang selalu mempertemukan kita
Aku melihat pesan singkat ini
"love is just piece of cake in life"
Hah!
Crazy
Seandainya kamu tahu
Dan menyadari
Tak akan ada kamu di dunia ini
Jika ketulusan hati seseorang hanya sebatas itu
Tak sebahagia ini
Jika kamu merasa bahwa cinta hanya sekecil itu
Katanya "Cinta tak hanya sebatas kata"
Bagi orang itu hanya sebatas lagu
Tidak bagiku, aku membenarkannya
Salah jika hanya mengartikan cinta sesempit itu
Karena cinta tak sesempit dunia
Yang selalu mempertemukan kita
Senin, 29 Juli 2013
Teriak, Tak Usah Kau Bisikkan
Aku masih mengingat mimpi-mimpi itu
Kebahagiaan atas mimpi yang kita goreskan
Belum ternoda, mimpi itu masih berlarian dipikiran
Aku tak pernah sengaja tuk menghapusnya
Kan ku biarkan mimpi itu tetap berlarian
Aku masih mempercayai takdir
Katakan jika memang kamu masih menyimpan mimpi itu
Tak perlu berbisik
Berteriak jika perlu
Aku ingin mendengarnya
Semoga takdir melukiskan mimpi kita dalam nyata
Atas doa
Kebahagiaan atas mimpi yang kita goreskan
Belum ternoda, mimpi itu masih berlarian dipikiran
Aku tak pernah sengaja tuk menghapusnya
Kan ku biarkan mimpi itu tetap berlarian
Aku masih mempercayai takdir
Katakan jika memang kamu masih menyimpan mimpi itu
Tak perlu berbisik
Berteriak jika perlu
Aku ingin mendengarnya
Semoga takdir melukiskan mimpi kita dalam nyata
Atas doa
Kamis, 25 Juli 2013
Cloudy in Moody
Tak pernah sekuat ini aku berdiri
Terlalu banyak hal yang bertumpu padaku
Kaki ini tak pernah berhenti tergelitik
Menghampiri kalbu
Entah masih mampu bersanding
Atau akan berlari menjauh
Awan cerah hari ini pun tak kan tau
Takdir mana yang akan menghampiri
Satu kuatku
Aku masih percaya pada-Mu, Ya Rabb
Terlalu banyak hal yang bertumpu padaku
Kaki ini tak pernah berhenti tergelitik
Menghampiri kalbu
Entah masih mampu bersanding
Atau akan berlari menjauh
Awan cerah hari ini pun tak kan tau
Takdir mana yang akan menghampiri
Satu kuatku
Aku masih percaya pada-Mu, Ya Rabb
Rabu, 24 Juli 2013
Lukisan Itu Bernama Takdir
Dingin
Sunyi
Tak seperti yang ku bayangkan
Aku melangkah maju menatap ke depan
Terkadang langkahku tergelitik untuk berbalik arah
Menghampiri cerita masa lalu
Ini tak sekedar iklan baris bagiku
Ini sudah masuk dalam kenangan
Bukan suram tak juga membahagiakan
Peduli apa kenangan itu padaku
Aku akan tetap berjalan ke depan bersama paruh hatiku
Entah yang lalu akan diam, menangis, atau bahkan berlari
Aku bukan pelukis takdir
Aku hanya penikmat takdir
Layaknya wayang kulit
Aku jalani apa yang telah Ia lukiskan untuk jalan hidupku
Entah akan kembali atau tidak
Yang pasti hati ini tak ingin dikecewakan lagi
Sunyi
Tak seperti yang ku bayangkan
Aku melangkah maju menatap ke depan
Terkadang langkahku tergelitik untuk berbalik arah
Menghampiri cerita masa lalu
Ini tak sekedar iklan baris bagiku
Ini sudah masuk dalam kenangan
Bukan suram tak juga membahagiakan
Peduli apa kenangan itu padaku
Aku akan tetap berjalan ke depan bersama paruh hatiku
Entah yang lalu akan diam, menangis, atau bahkan berlari
Aku bukan pelukis takdir
Aku hanya penikmat takdir
Layaknya wayang kulit
Aku jalani apa yang telah Ia lukiskan untuk jalan hidupku
Entah akan kembali atau tidak
Yang pasti hati ini tak ingin dikecewakan lagi
Rabu, 10 Juli 2013
Delete,Send, and Draft
Sepagi ini.
Hatiku memaksakan otakku menemukan beribu cara untuk segera
menyelesaikan hal ini.
Aku tak mungkin melanjutkannya.
Tapi aku juga tak tau bagaimana aku harus berhenti melakukan
hal ini.
***
*Tujuh jam yang lalu*
“Aku mau ketemu, aku harus bicara. Kita bisa bertemu jam
berapa?”
-Delete all-
“aku mau bicara. Tapi aku masih bingung bagaimana harus
mengatakannya padamu..”
-Send-
-New message-
“Masalah apa? Bilang saja sekarang..”
“Aku merindukan calon suamiku, aku sudah lelah membohonginya
demi mendapatkan waktu untuk bertemu denganmu..”
-Send-
-New Message-
“Maksudnya?”
***
Sampai detik ini aku masih tak bisa melanjutkan percakapan
dalam pesan singkat itu.
Aku masih tak sampai hati untuk mengatakannya.
Keegoisanku mulai mengambil peran utama.
Aku masih membutuhkannya, tapi bagaimana mungkin aku
menjalani dua hati?
Rasa sayang untuk pacarku melebihi rasa sayangku padanya.
Tak pantas jika aku merelakan rasa sayang ini untuk lelaki
yang bahkan tak menganggapku selama lima tahun ini.
Pergelutan perasaan masih berkecamuk dalam hati.
Hati kecilku selalu mengatakan bahwa aku tidak mencintainya,
ini hanya soal kejenuhan.
Ahh...
Aku masih tak tau harus berkata bagaimana.
Aku bukan wanita pemberi harapan palsu *bahasa anak era
2012*
Dari dulu aku tak punya keberanian untuk mengatakannya.
***
-Clear all conversation-
***
Aku hanya berharap pacarku masih bertahan menyatukan hatinya
dengan hatiku.
Aku masih menunggu waktu yang tepat untuk membicarakan
semuanya.
Menbicarakan dari A sampai Z dan anak cucunya.
Hingga hubungan persahabatan ini menjadi murni.
Tanpa ada rasa keinginan menyatukan hati satu sama lain.
Hatiku hanya satu.
Hanya akan aku satukan pada hati yang selama ini memangku dan bersandar dengan hatiku.
Aku tak mau berkhianat.
Aku juga tak ingin aku di khianati.
Paruh hati mana yang akan tinggal diam melihat paruh hatinya
bersama dengan paruh hati lain.
***
“Jangan paksakan aku untuk merelakan paruh hatiku demi paruh
hatimu yang selama tiga tahun lebih membiarkan aku bermimpi sendiri tentang
kita, tanpamu..”
-Draft-
Jumat, 05 Juli 2013
A dan B Yang Jauh, A dan B Yang Selaras
Mengucap janji setia sehidup semati di depan penghulu itu, m
u d a h [?]
Mudah karena hanya mengucap
Tapi kita bertanggung jawab atas janji itu
Itu yang tidak mudah
Jangan pernah membayangkan nikmatnya (saja) dalam suatu
pernikahan
Beban yang dipikul akan lebih berat
Apalagi kita harus selaras dengan pasangan
Menyelaraskan diri kita sendiri saja terkadang masih sulit
Apalagi dengan pasangan hidup
Terkadang wanita mempunyai rencana A
Namun pria punya rencana B
A dan B itu dekat
Satu tarikan nafas
Tapi tidak semudah itu ketika kita berbicara atas nama ego
Jauh....
A akan beranak pinak
B akan beranak pinak juga
Dan tugas pasangan adalah menyelaraskan bukan menyamakan
A dan B tidak akan pernah sama
Tapi jika disandingkan
Akan indah
Seindah kota ber-plat AB yang menyimpan banyak kenangan
***
Bukan berarti aku memutuskan untuk mundur
Justru aku akan tetap maju
Aku mundur itu berarti aku semakin tidak siap
Aku selalu ingin belajar dari hidup
Bagaimanapun jalannya
***
Pernikahan itu indah asal didasari atas ketulusan dan
keikhlasan
Ketulusan memberi kepada pasangan
Dan keikhlasan menerima apapun keadaan pasangan
***
Saat ini aku masih belum mengetahui
Kapan aku akan mendengar
tulang rusukku mengucap janji setianya di depan ayahku dan penghulu
Yang pasti aku berusaha mempersiapkannya sejak jauh hari
Bahkan ketika ia belum memberanikan diri
Untuk membawa orang tuanya ke kursi ruang ramu di rumah ini
Kamis, 04 Juli 2013
Akhiri Ini Dengan Indah
Ketika pelukanku pun
tak lagi bisa
Menenangkan hatimu
yang sedih
Aku memilih tuk
mengakhiri ini dengan indah
Jikustik-
Akhiri Ini Dengan Indah
Aku tak pernah menginginkan keadaan seperti ini
Ketika aku dan dia bisa bertemu kembali
Dia orang yang dulu sempat mengisi ruang hatiku
Aku tak pernah berkeinginan untuk memilikinya
Aku hanya menyayangkan orang sebaik ini jika tak bisa
dimiliki
Sama?
Menurutku tidak
Tapi aku menyayanginya dari jauh
Sesaat
Karena aku tau dia tak akan bisa jadi milikku
Dia lebih aku anggap sebagai petir dalam hujan
Yang ketika dia bergemuruh sekali, maka selanjutnya akan
bergemuruh
Dan tiba-tiba hilang
Entah apa yang kemudian membawa dia datang lagi
Satu kata yang saat dia kembali, muncul dalam batinku
K a n g e n
Mungkin saat itu aku membutuhkan dia sebagai tempat sampah
Dulu aku sempat membuang keluhan, umpatan, kekesalan atau
apapun padanya
Paling tidak dia bisa menenangkan hatiku
Sampah itu aku buang kembali padanya
Sekali, dua kali bahkan berkali-kali dia menjadi motivatorku
dalam menyelesaikan tugas akhirku
Aku jatuh
Aku tau ini akan salah di mata siapapun yang mengetahuinya
Tapi apa bisa kita menyalahkan hati?
Aku rasa tidak
Aku terus menjalaninya
Hingga sempat berangan-angan yang mungkin tidak seharusnya
aku lakukan pada setiaku
Sampai pada titik kesadaranku
Aku tidak bisa terus menerus membohongi diriku dan setiaku
Dia hanya sesaat
Aku kembali bermain dengan perasaan
Aku rasa tak apa
Ketika aku memilih mengakhiri aku dengan dia yang hanya masa
laluku
Aku sudah sejauh ini menjalani dengan yang sekarang
Untuk apa aku kembali pada orang yang bahkan
Selama 3 tahun tidak tau aku menyimpan rasa
Aku ingin mengakhirinya dengan indah
Bukan dengan suatu pertengkaran atau perdebatan
Aku hanya ingin dia tetap menjadi “tong sampah”-ku
Aku tidak berkhianat
Tapi ini caraku
Agar antara aku dan dia
Bukan hanya teman, tapi sahabat
Melindungi, menjaga bahkan membebaskan berbuat semauku
Walaupun terkadang aku masih melihat semburat rasa cemburu
di wajahnya
Tapi aku tau,
Dia mempercayakan apa yang akan terjadi esok dan lusa adalah
yang terindah
Walau mungkin tidak dapat menyatukan hati
Aku hanya bisa mengucap maaf atas segala kekeliruan rasa
Ini bukan drama tapi ini skenario
Mungkin Tuhan tau,
Ada hati yang lebih satu dengan hati kita masing-masingRabu, 03 Juli 2013
Hujan & Teh Hangat Sedikit Gula
Hujan sore ini memaksaku untuk bisa ditemani oleh secangkir teh hangat
Tapi aku juga tidak sendiri
Bersama partner hidup yang hanya berselisih satu tahun di atasku
Waktuku banyak habis dengannya
Bermain, bercanda bahkan tak jarang kami saling lempar guling
Tapi anganku bukan tentang masa laluku dengan kakakku
Ini tentang gula yang aku tuang ke dalam cangkir tehku
...
“Kamu manis, walapun kamu tak pernah didatangi sekumpulan semut.
Aku yang akan jadi semutnya. Aku suka kalau kamu berkedip..”
“Idih gombal..”
“Sama sekali enggak. Ini serius. Bisa buatkan aku teh hangat?”
“Iya. Tunggu di sini aku akan buatkan teh hangat untukmu..”
“Jangan lupa gulanya dipisah..”
“Iya, aku tau.. Tak usah banyak bicara, kamu tinggal tunggu tehnya..”
Sesaat kemudian,
“Aku lebih suka manis yang ada di kamu. Bukan manis di teh ini..”
“Aku tak tau kenapa aku harus mendengar kata-kata semacam itu dari mulutmu.
Jangan berlebihan, sesuatu yang berlebihan itu tidak baik..”
“Aku tidak melebih-lebihkan apa yang aku rasakan.
Kamu terlalu manis untuk bisa disandingkan dengan teh buatanmu sendiri..”
...
Gula dan hujan lebih sering membuatku teringat pada masa laluku
Kamu memang bukan yang saat ini bersamaku
Tapi aku tau ketulusan memberi dan keikhlasanmu menerimaku apa adanya
Walaupun kini kita terpisah
Bahkan tak pernah terucap satu katapun ketika kita bertemu
Tapi aku tau cerita ini masih kamu ingat
Apalagi ketika ibumu selalu menghampiriku melalui pesan singkatnya
Dan selalu bertanya bagaimana keadaanku
Seandainya ibumu tau aku telah lama mengikhlaskan hatimu menyatu dengan hati yang lain
Tentu tak akan sesering ini pesan singkatnya masuk dalam inbox ponselku
Atas nama hujan dan teh hangat dengan gula sedikit sore ini
Aku mengingatmu dengan jelas
Semoga kamu masih selalu merindukan teh hangat buatanku
Tanpa meminta ibumu untuk selalu membuatkan teh
ketika hujan mulai datang dengan deras
for mr. bejita_boy
Titip Rindu Pada Angin Pagi
Angin dan embun pagi ini berkolaborasi dengan semburat putih
di langit biru
Aku merasakan hangatnya sinar pagi yang selama ini tak
pernah terlalu lama ku nikmati
Walaupun terkadang hangatnya melebihi dekapan sosok yang ku
sayangi
Aku acuhkan sinar itu menghangatkanku dengan angan-angan
lain
Entah apa, yang pasti tak ada kata,
“Alhamdulillah aku tidak merasa kedinginan”
Atau semacamnya
Kali ini aku biarkan badan ini tersinari oleh mentari pagi
Aku biarkan nafas ini tercampur sejuknya embun
Aku biarkan desiran angin menggoyahkan pakaian dan jilbabku
Ah...
Aku tak pernah merasakan pagi yang senikmat ini
Subhanallah
Atas segala yang telah Engkau ciptakan, Ya Rabb
Ku titipkan hembusan rinduku untuk dia lewat angin pagi
Ku titipkan doa agar dia selalu berada dalam lindungan-Mu
Dan kan ku biarkan angin membalut tubuh ini bersama sinar
pagi
Sungguh aku bukan pendusta nikmat yang telah Engkau berikan
Rabu pagi di
Pertengahan 2013
Senin, 01 Juli 2013
Pertahanan Ego, Pertahanan Hati
Sebosan inikah aku menjalani
ini denganmu?
Aku tak pernah berpikir sekalipun untuk mencoba mengkhianati
Entah angin apa yang membawaku ke dalam angan masa lalu
Yang pasti aku merasakan sebuah hembusan kejenuhan dalam
hubungan ini
Perlahan aku mulai menikmatinya
Ya..
Menikmati kejenuhan yang ada
Jenuh ketika diantara kita tak ada obrolan yang lebih
panjang
Jenuh ketika diantara kita tak ada keputusan untuk saling
menjatuhkan bahu satu ke yang lain
Bahkan jenuh untuk sekedar menanyakan keberadaamu
Tapi ini memang suatu selingan
Kita harus menikmatinya
Hingga salah satu diantara kita bisa mengalah
Bukan hal mudah tentunya
Mentransformasikan kejenuhan menjadi sebuah ukiran tawa yang
lepas
Apalagi ketika kita
berdua sama-sama diperintah oleh deadline
Terkadang aku harus
menahan keinginan
Untuk sekedar
menanyakan bagaimana pekerjaanmu
Iya, aku takut ketika
kamu lebih memilih melepaskan pertahanan egomu di depanku
Kita tidak akan bisa
mengambil keputusan dalam keadaan serumit itu
Ada saatnya pula ketika aku berhasil mengambil hatimu
Walau hanya sekedar berkata,
“Nanti sore makan bareng, yuuk?”
Begitu pula denganmu
Sesibuk apapun, terkadang aku tetap mengiyakan ajakanmu
Dan satu hal yang
harus kamu ketahui
Aku tak akan pernah
sanggup mengecewakanmu
Sepenuh hatiku aku
telah berusaha selalu memberikan yang terbaik
Karena inilah salah
satu caraku mempertahankan hati kita tetap satu
Langganan:
Komentar (Atom)





